(KASHMIR) Sholat Dhuhur di Masjid Jama’ Srinagar, Kashmir

Kolam wudhu di halaman tengah Masjid Jama' Srinagar
Kolam wudhu di halaman tengah Masjid Jama’ Srinagar. (foto : dokumen pribadi)

Ada hal yang harus ditiru kaum muslim di Indonesia dari kaum muslim Kashmir. Yaitu setiap gerakan sholat mereka hampir serentak / bersamaan dan agak cepat. Tidak ada yang terlambat bergerak atau lamban gerakannya seperti di Indonesia. Kemudian shafnya rapat sekali.  Tidak hanya kaki tapi bahu jamaah juga saling bersentuhan.

Pagi itu saya sedang berada di pasar di sekitar Masjid Jama’ Srinagar.  Biasa.. window shopping dan cuci mata.  Barangkali ada yang menarik untuk dibeli. Sayangnya tidak banyak yang menarik di pasar tersebut.  20 menit sebelum waktu Sholat Dhuhur tiba, saya berjalan ke masjid dan masuk melewati pagar kompleks masjid.  Setelah membayar “biaya kamera foto”, saya segera masuk ke dalam kompleks masjid melewati pintu gerbang yang sangat tinggi dan kokoh.  Ketika masuk gerbang, posisi saya berada di sisi kanan masjid.  Ada beberapa turis lokal yang duduk-duduk di dalam bangunan sisi kanan masjid tersebut.  Saya putuskan untuk menikmati keindahan ruangan tersebut dan mengambil beberapa foto  di dalam ruangan masjid.

Setelah Adzan Dhuhur berkumandang,  saya segera bergerak menuju ke tengah halaman masjid.  Di tengah halaman masjid tersebut terdapat sebuah kolam dengan air mancur di tengahnya.  Tadinya saya mengira kolam tersebut hanya hiasan taman / halaman masjid.  Namun ternyata kolam tersebut adalah tempat berwudhu bagi jamaah yang akan sholat.  Airnya bersih, bening dan terasa segar ketika dibuat membasuh wajah.  Cukup banyak jamaah yang mengambil wudhu di kolam tersebut.

Ada juga jamaah yang tidak berwudhu di kolam itu.  Mereka pada umumnya sudah mengambil wudhu di rumah.  Sebagian dari mereka ini segera duduk dan melakukan sholat sunnah di bawah pohon di halaman masjid tanpa beralaskan sajadah atau alas lain.  Sholat langsung di atas rumput.  Setelah sholat sunnah mereka kembali duduk berdzikir menunggu iqomat.

Selesai berwudhu, saya berjalan menuju ke bangunan utama masjid.  Bangunan utama ini cukup megah, plafonnya tinggi dan dindingnya tebal. Tampak kokoh. Ruangan di dalam bangunan utama masjid ini tidak terlalu besar.  Mungkin hanya sekitar 10 shaf ke belakang, namun bisa berbaris panjang ke samping.  Di bangunan utama ini jamaahnya penuh.  Luar biasa..!  Bila dibandingkan dengan masjid jamik di sebuah kota santri di Indonesia.

Kebanyakan jamaah mengenakan baju ghamiz putih dengan celana gombrong putih dan memakai peci haji warna putih pula.  Sepertinya pakaian orang Khasmir ada banyak kemiripan dengan pakaian orang Pakistan.  Sebagian lagi berbusana kasual. Pakai celana jean, celana kerja, kaos, kemeja dan tidak berpeci. Karena pada dasarnya orang Kashmir banyak bulunya, sebagian besar di antara mereka memelihara jenggot.  Orang-orang tua berjenggot panjang, sedangkan kaum mudanya brewokan.

Di India, demikian juga di Masjid Jama’ Srinagar ini, jarak waktu interval dari Azan ke Iqomat cukup lama.  Sekitar 20 – 30 menit.  Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada orang-orang yang rumahnya agak jauh untuk datang ke masjid.  Hikmah yang lain adalah Jamaah di dalam masjid bisa melakukan sholat sunnat sebanyak dan selama mungkin.   Setelah sholat sunnat mereka berdzikir dengan bersuara. Suaranya cukup keras. Nadanya sama dengan masjid di India yang lain. Nadanya lebih tegas dibandingkan di Indonesia, bahkan agak mirip dengan militer yang sedang bernyanyi bersama.  Jamaahnya kompak dalam melantunkan dzikirnya.

Yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah kemudian mereka melantunkan pujian-pujian dalam bahasa lokal.  Mungkin kalau di Indonesia setara lagu Tombo Ati ataupun Ilir-ilir.  Ketika saya Sholat Maghrib dan Isya’ di masjid di Kolkata, Old Delhi dan sebuah masjid kecil di Srinagar juga, saya tidak mendengar senandung puji-pujian dalam bahasa lokal seperti di Masjid Jama’ Srinagar ini.  Apakah ini bentuk sinkretisme??   Di Indonesia senandung pujian dalam bahasa Jawa sudah sering saya dengar, tetapi tidak pernah dilakukan di antara Sholat Sunnat Rawatib dan Sholat wajib.

Pintu masuk ruangan utama masjid di belakang Imam sholat.
Pintu masuk ruangan utama masjid di belakang Imam sholat. (foto : dokumen pribadi)

Pelaksanaan Sholat wajib di masjid ini sama dengan di masjid di India maupun di negara Asia Tengah lainnya.  Posisi telapak tangan setelah takbiratul ihram berada di pusar atau di bawah pusar. Hanya saat takbiratul ihram saja ada gerakan mengangkat tangan ke samping  telinga.  Selenjutnya setiap gerakan berikutnya yang ditandai dengan lafazh Allahu Akbar tidak disertai dengan gerakan mengangkat tangan.

Catatan : Di India dan Kashmir, pada saat Sholat Maghrib dan Isya’, di akhir pembacaan Surat Al Fatihah, jamaah mengucapkan lafazh ‘Amin” dengan lirih.  Nyaris tak terdengar dan diucapkan bersamaan dengan hembusan nafas.

Di posisi duduk tasyahud awal dan ketika membaca syahadat, jamaah hanya mengacungkan telunjuknya sebentar.  Mungkin hanya saat mengucap kalimat syahadat saja jari telunjuknya diacungkan.  Setelah itu telunjuk kembali ke posisi semula.  Posisi kaki saat duduk tasyahud akhir juga sama dengan posisi kaki saat duduk tasyahud awal.  Jadi badan tidak miring ke kiri seperti di Indonesia.

Ketika mengucapkan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri, jamaah melakukannya sambil mengayunkan kepala. Gerakannya seperti membentuk huruf u atau bentuk mangkok.

Ada hal yang harus ditiru kaum muslim di Indonesia dari kaum muslim Kashmir. Yaitu setiap gerakan mereka hampir serentak / bersamaan dan agak cepat .  Tidak ada yang terlambat bergerak atau lamban gerakannya seperti di Indonesia.  Hal yang lain adalah jarak shafnya rapat sekali.  Tidak hanya kaki tapi bahu jamaah juga saling bersentuhan.

Selesai sholat jamaah, Imam memimpin pembacaan sholawat, dzikir dan doa dengan bersuara jelas (tidak lirih ataupun berteriak).   Jamaah mengikuti sang Imam. Namun tidak ada lagi senandung pujian dalam bahasa lokal setelah sholat wajib selesai.   Pembacaan sholawat, dzikir dan doa tidak berlangsung lama.  Sekitar 10 menit saja.

Setelah berdzikir, jamaah melakukan sholat Sunnat Rawatib lagi. Yang menarik adalah setelah sholat Rawatib itu mereka melakukan sholat sunnat 2 rakaat lagi tapi dilakukan sambil duduk.  Awalnya saya mengira itu dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua.  Mungkin orang-orang tua itu capek tidak kuat sholat sambil berdiri lagi.   Tapi ternyata saya juga melihat ada jamaah berusia muda yang melakukan sholat sambil duduk ini.  Sayang sekali saya tidak sempat bertanya sholat apa yang mereka lakukan sambil duduk tersebut. Di India (termasuk Kashmir), mazhab yang dianut mayoritas penduduknya adalah Mazhab Hanafiah.  Kemungkinan sholat itu adalah salah satu amalan di Mazhab Hanafiah.

*perjalanan dilakukan pada tahun 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s