(JAWA TENGAH) Sholat Ashar di Masjid Agung Surakarta

Ruangan Utama Masjid Agung Surakarta. (foto : dokumen pribadi)
Ruangan Utama Masjid Agung Surakarta. (foto : dokumen pribadi)

Yang mengagumkan di masjid ini adalah, jarak antar jamaah sholat cukup rapat.  Sisi luar kaki bersentuhan dengan sisi luar kaki jamaah di sebelahnya.  Ada satu lagi yang membuat kagum.  Di Masjid Agung ini tidak ada petugas yang mengatur barisan jamaah (sebagaimana di Masjid Agung Tuban dan Masjid Istiqlal Jakarta). Tetapi jamaah masjid ini seperti sudah paham shaf mana yang harus di isi lebih dulu. Sehingga jumlah jamaahnya kelihatan seimbang baik di shaf sebelah kiri maupun sebelah kanan. Saya tidak mengira hal ini bisa terjadi di masjid di Indonesia.

Selesai beli oleh-oleh di Pusat Oleh-oleh Solo “Toko Juvenir” di kawasan Jl. Adi Sucipto (yang mempunyai konsep sama dengan pusat oleh-oleh Krisna di Bali), tujuan saya berikutnya adalah Masjid Agung Surakarta (Masjid Kraton Surakarta).  Dari Toko Juvenir ke Masjid Agung Surakarta saya menggunakan angkutan Go-Jek.  Sebuah angkutan sepeda motor yang dipesan secara online melalui aplikasi di smartphone.   Tinggal masukkan alamat jemput dan alamat tujuan lalu klik.  Anda akan terhubung dengan driver Go-Jek yang ditunjuk oleh sistem aplikasi tersebut.  Tarifnya sekitar Rp.18.000,-.  Lumayan murah.

Saya tiba di Masjid Agung sekitar jam 14.00 WIB.  Sudah terlambat untuk Sholat Dhuhur berjamaah.  Setelah masuk halaman masjid dan kemudian melewati pintu gerbang masjid, saya menuju ke penitipan sandal.  Saya pernah sekali ke Masjid Agung ini beberapa tahun sebelumnya, namun sudah lupa bagaimana keadaan detil dan suasana beribadah di Masjid Agung ini.

Saya menuju ke ruang wudhu yang terletak di sisi kiri masjid.  Tersedia banyak kran air dan juga banyak kamar kecil di area ini.  Meskipun terlihat bangunan lama tetapi area wudhu dan toilet ini cukup bersih sehingga saya merasa nyaman berwudhu di sana.  Usai berwudhu saya berjalan ke arah masjid.  Di teras masjid banyak orang yang sedang duduk-duduk maupun tiduran.  Mungkin mereka beristirahat dari terik matahari siang dan udara yang panas di Solo. Saya berjalan memasuki ke bangunan utama masjid yang cukup luas.  Hampir 2 kali luas ruangan utama Masjid Agung di Kota Tuban.

Meskipun cuaca agak mendung, tetapi di ruangan utama masjid ini saya merasa kegerahan.  Bisa jadi karena selama naik ojek, saya terpanggang panas matahari.  Tapi yang jelas saat itu semua kipas angin di masjid Agung ini dimatikan.  Dan jendela-jendela yang ada di dinding masjid tidak cukup untuk memberi ruang bagi angin untuk masuk ke dalam ruangan utama masjid.  Mungkin perlu renovasi sistem sirkulasi udara..

Di bagian depan ruangan utama, saya melihat ada 4 orang sedang melakukan Sholat Dhuhur jamaah.  Saya segera bergabung menjadi makmum masbuk (makmun terlambat).  Selesai Sholat Dhuhur, saya melihat masih ada waktu sekitar 40 menit sebelum waktu sholat Ashar tiba.  Saya putuskan untuk menunggu di dalam masjid sambil melihat-lihat kodisi ruangan utama dan teras masjid.

4 menit sebelum waktu Ashar tiba (waktu Ashar saat itu adalah 14.51 WIB), terdengar ada pembacaan surat Al Quran.  Bacaannya enak didengar. Awalnya saya mengira Masjid sedang memutar kaset sebagaimana di kebanyakan masjid yang saya jumpai. Tapi ternyata itu bukan suara kaset.

Biasanya kalau kaset yang diputar di masjid-masjid lain, isinya bukan pembacaan surat Al Quran, tetapi Sholawat Tarhim.  (Ket : Shalawat Tarhim merupakan puisi karya Syaikh Mahmud al Khusairi yang berisi puji – pujian kepada Rasulullah Muhammad SAW. Dan yang biasa diputar di banyak masjid – masjid maupun mushola di Indonesia adalah lantunan Syaikh Abdul Aziz dari Mesir).  Di Masjid Agung ini tidak diputar kaset Shalawat Tarhim.

Tidak beberapa lama, terdengar bunyi tit tit tit… Bunyi alarm jam elektronik yang ada di banyak masjid di Pulau Jawa yang menandakan sudah masuk waktu Sholat Ashar. Bunyi alarm tersebut kemudian diikuti dengan bunyi pukulan beduk, namun bunyi beduk ini tidak lama seperti kebanyakan di masjid lain.  Tetapi anehnya, suara orang yang mengaji tadi masih masih terdengar ketika alarm jam elektronik dan beduk tadi berbunyi.

30 detik kemudian, suara orang yang mengaji tadi berhenti dan digantikan sengan suara kumandang Adzan.  Di sini saya baru menyadari ternyata suara pembacaan surat Al Quran tadi bukan suara kaset.  Tetapi suara muadzin.  Bacaan adzannya normal dan cukup enak didengar.  Tidak medok orang Jawa 🙂  Nada suaranya lumayan tinggi dan agak cempreng.   Ketika kumandang Adzan belum selesai, tiba-tiba alarm jam elektronik kembali berbunyi menandakan waktunya iqomat.  Sepertinya perlu disetel ulang interval waktu adzan dan iqomat, sehingga tidak terjadi tumpang tindih seperti ini.

Setelah Adzan selesai dikumandangkan, lalu ada suara beduk ditabuh agak panjang dibanding pukulan beduk sebelum adzan tadi.  Suara beduk yang seperti inilah yang sering saya dengar sebelum azan di masjid yang lain.  Lalu ada pengumuman pengeras suara dari takmir masjid yang menyuruh jamaah yang sedang istirahat di teras masjid untuk segera mengambil wudhu dan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat.  Takmir masjid juga mengingatkan jamaah agar tetap waspada dalam menjaga barang yang dibawa masing-masing.

Setelah itu para jamaah melakukan Sholat Rawatib sebanyak 2 rakaat.  Selesai Sholat Rowatib dan menunggu waktu iqomat, tidak terdengar bacaan sholawat atau dzikir oleh muadzin maupun jamaah.  Hening. Mungkin ada jamaah yang berdoa, tetapi tidak ada yang berdoa dengan suara yang keras.

Tiba-tiba terdengar suara seperti bel kelas waktu saya masih SD.  Teeeettt…. Rupanya itu adalah tanda waktunya iqomat.   Mungkin karena alarm elektronik untuk iqomat sudah terlanjur bunyi saat Adzan tadi, sehingga sekarang diganti dengan bunyi bel tersebut.  “Bel sekolah” tadi berbunyi bersamaan dengan bunyi lonceng jam lemari kuno (menandakan jam 15.00 tepat).  Setelah itu sang Muadzin menyuarakan iqomat tanda sholat segera dimulai.  Kalau dihitung, jarak antara waktu azan berkumandang dan iqomat lebih dari 10 menit. Waktu Ashar adalah jam 14.51 dan ketika iqomat jam menunjukkan pukul 15.03. Sang Imam segera meminta jamaah agar meluruskan barisan dan shafnya dalam Bahasa Arab.  Sang Imam tidak mengulanginya dalam Bahasa Indonesia. Selesai Imam berbicara seperti itu, ada 1-2 makmum yang menjawab dengan agak keras “sami’na wa atho’na”.   Namun di masjid ini Imam tidak memperingatkan jamaah agar mematikan handphone masing-masing.

Sang Imam mengenakan baju koko warna hijau muda lengan panjang, berpeci haji warna putih dengan motif garis biru.  Sarung yang dipakai Imam berwarna coklat dan bermotif kotak-kotak.  Imam tersebut berusia sekitar 35 tahunan.  Masih muda.  Sang Imam pun mulai memimpin sholat,  bacaan takbir Imam agak enteng suaranya.  Biasa.  Tidak ada penekanan-penekanan nada suara.

Shaf Depan & Mimbar Masjid Agung Surakarta. (foto : dokumen pribadi)
Shaf Depan & Mimbar Masjid Agung Surakarta. (foto : dokumen pribadi)

Jumlah jamaah Sholat Ashar ini lumayan banyak.  Ada 5 – 6 shaf,  Bila 1 shaf berisi 40 orang, berarti jamaah Sholat Ashar tersebut berjumlah 200 – 250 orang.  Wow! Ini termasuk banyak, bila itu dibandingkan dengan pelaksanaan Sholat Ashar berjamaah di masjid lain di Pulau Jawa.  Kemungkinan penyebabnya adalah masjid ini terletak di dekat pasar dan juga banyak wisatawan lokal di daerah ini, sehingga jamaah sholatnya banyak.

Sebagian besar jamaah menggunakan pakaian sederhana sehari-hari. Kemeja kerja / batik, kaos polo, atau t-shirt.  Hanya 1 – 2 orang saja yang menggunakan baju koko (salah satunya Imam Sholat yang menggunakan baju koko hijau lengan panjang).  Sedangkan untuk bawahannya paling banyak menggunakan celana panjang.  Sedikit yang menggunakan sarung.  Sebagian besar jamaah tidak menggunakan tutup kepala.  Hanya sedikit jamaah yang memakai peci haji. Hampir tidak terlihat ada jamaah yang memakai kopiah hitam ala presiden Indonesia. Saya juga tidak melihat ada jamaah yang berpenampilan seperti alim ulama, yang bergamis ala Arab dan berjenggot panjang.

Kebanyakan jamaah bertakbiratul ihram dengan mengangkat tangan di samping telinga.  Setelah takbiratul ihram, tangan jamaah bersedekap di atas pusar dan di bawah dada.  Ketika bangun dari ruku’ dan bertakbir, jamaah mengangkat tangan.  Ada yang mengangkat tangan sampai setinggi dada. Ada juga yang mengangkat sampai di samping telinga.  Ketika duduk tasyahud awal, jamaah duduknya masih tegap.  Namun ketika duduk di tasyahud akhir, posisi badan jamaah agak miring ke kiri.  Ini karena kaki kiri mereka disilangkan di bawah paha kanan mereka.

Yang mengagumkan di masjid ini adalah, jarak antar jamaah cukup rapat.  Sisi luar kaki bersentuhan dengan sisi luar kaki jamaah di sebelahnya. Paling tidak itu yang saya lihat di barisan shaf pertama dan kedua. Untuk kerapatan jamaah sholat seperti ini, yang dapat mengalahkan Masjid Agung Surakarta adalah Masjid Nurullah – Kalibata City di Jakarta.  Ada satu lagi yang membuat kagum.  Di Masjid Agung ini tidak ada petugas yang mengatur barisan jamaah sholat (sebagaimana di Masjid Agung Tuban dan Masjid Istiqlal Jakarta). Tetapi jamaah Masjid Agung ini seperti sudah paham shaf mana yang harus di isi lebih dulu. Sehingga jumlah jamaahnya kelihatan seimbang baik di shaf sebelah kiri maupun sebelah kanan. Saya tidak mengira hal ini bisa terjadi juga di masjid di Indonesia.

Ketika selesai sholat wajib, tidak terdengar bacaan dzikir / tahlil dan doa bersama yang dipimpin Imam Sholat.  Semua jamaah berdoa masing-masing tanpa ada suara yang terdengar. Tidak terlihat pula kegiatan berdiri setengah melingkar untuk saling bersalam-salaman antara Imam dan para jamaah sambil bershalawat setelah sholat selesai maupun setelah doa masing-masing selesai.  Dua hal ini sangat membedakan Masjid Agung Surakarta dibandingkan dengan masjid-masjid besar di Jawa Timur.

Ketika Sholat Ashar berjamaah berlangsung, hanya terdengar 1 kali suara handphone berbunyi. Itupun tidak keras suaranya.  Ini sangat bagus dibandingkan dengan kebanyakan masjid lain di Jawa, yang meskipun sudah diingatkan oleh Imam untuk mematikan handphone, tetapi masih saja banyak handphone yang berbunyi ketika sholat berlangsung.

Ketika sholat wajib jamaah selesai, masih banyak jamaah yang baru datang.  Terlambat.  Mereka kemudian membuat shaf untuk sholat jamaah lagi.  Di Masjid Agung ini, budaya sholat jamaah untuk orang yang terlambat datang di masjid sangat bagus bila dibandingkan dengan masjid lain yang pernah saya kunjungi.  Di masjid lain, kebanyakan jamaah yang datang terlambat lebih memilih untuk sholat sendiri.  Bahkan ada yang sholat di pojokan kanan atau di belakang.  Mungkin takut dijadikan imam oleh jamaah lainnya yang juga terlambat datang 🙂

10 menit setelah selesai Sholat Ashar, ada petugas yang mengepel kering lantai ruangan masjid.  Tepatnya menyapu dengan menggunakan tongkat dan kain pel kering.  Hal ini mengingatkan saya kepada Masjid Jama’ di Tashkent, Uzbekistan.  Setiap selesai Sholat Fardhu berjamaah, ada petugas yang mem-vacuum cleaner karpet masjid.  Bahkan lebih parah, semua jamaah disuruh keluar dari ruangan utama ketika karpet akan dibersihkan.  Tapi di Masjid Agung Surakarta ini, petugasnya tidak menyuruh jamaah keluar dari ruangan utama masjid.

Mengejutkan, ternyata Masjid Agung Surakarta ini sangat bagus dalam pelaksanaan ibadah sholatnya.  Bahkan menurut saya, Masjid Agung Surakarta ini merupakan salah satu masjid terbaik yang pernah saya kunjungi.  Saya merekomendasikan agar pengurus-pengurus maupun jamaah masjid-masjid lain di Indonesia berkunjung ke Masjid Agung Surakarta ini untuk membandingkan pelaksanaan sholat jamaahnya.

*perjalanan dilakukan pada bulan November 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s